Kamis, 15 Desember 2022

Cerita Sejarah Rangga Yudistira XII IPA 4



Saya dilahirkan dengan nama Rangga Yudistira di Sumedang tanggal 28 November 2004,nama  ini di berikan oleh bapa saya karena beliau ingin anak nya menjadi seorang pemimpin, dengan filosofi Raja Erlangga menjadi Rangga, dan Kakak tertua pandawa Lima Yudistira, maka lahir lah nama Rangga Yudistira. 


Ibu saya adalah seorang PNS, beliau menggurui mata pelajaran IPS di SMPN 1 TANJUNGSARI, saya akan bercerita tentang perjalanan hidup saya dari mulai sayang di jauhi temen temen, tidak mempunyai jatidiri sampai saya mendapatkan temen temen dekat dan mendapatkan jatidiri. 


Di suatu hari dimana hari itu ada hari pertama saya bersekolah di Sekolah Menengah Pertama SMPN 1 TANJUNGSARI, pada saat itu saya pertama kali nya masuk ke dalam SMPN 1 TANJUNGSARI dan mendapat teman baru, di kala itu saya berangkat berjalan dari rumah ke sekolah namun pada saat saya berjalan ada mobil yang berhenti tepat di samping saya, dan  seorang bapa bapa di dalam mobil itu mengajak saya untuk ikut bersama ke sekolah tujuan saya, di kala itu saya bingung dan ragu karena saya tidak mengenali bapa ini, namun pada saat bapa itu memperlihatkan anak nya yang sebaya dengan saya pada saat itu saya mulai percaya dan memberanikan diri untuk ikut dan masuk pada mobil tersebut, pada saat itu saya pun masuk, di dalam mobil itu ada satu ibu yang bertanya, "kelas apa dek" Saya pun menjawabnya "kelas G ibu"pada saat itu ibu tersebut bilang anak saya juga sama di kelas G dan kebetulan sekali kita berangkat bersama pada hari pertama sekolah, saat itu adalah permulaan saya mendapatkan teman baru di SMP. 


Jelang beberapa waktu sesudah saya masuk sekolah dan menjalani PLS atau Pengenalan Lingkungan Sekolah, saya mengikuti ekstrakurikuler Karate yang sudah jadi tujuan saya masuk ke SMP ini karena sejak dulu saya melewati sekolah ini saya selalu melihat anak anak SMP yang berlatih Karate, pada hari pertama saya mengikuti latihan dan mengenal ekstrakurikuler Karate saya serasa ini adalah suatu permulaan bagi saya untuk jenjang karir saya ke dapannya dan suatu hal yang bisa saya jadikan ke prioritas saya kedepanya. 


Tak terasa satu semester saya di SMP dimana saya mendapatkan teman teman baru yang sangat faham dan tidak ada satu pun yang menjatuhkan, semua momen yang sangat berkesan di hidup saya yang tidak mungkin untuk saya lupakan saya pada saat itu sudah di beri kepercayaan untuk mengikuti O2SN atau Olimpiade Olahraga Sekolah Nasional saya di kala itu di beri kepercayaan untuk mengikuti ajang tersebut, 2 bulan saya mempersiapkan diri dan keberanian saya untuk mengikuti ajang tersebut karena ini adalah ajang atau kejuaraan pertama yang saya ikut, namun saya belum bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, namun saya jadikan ini pelajaran dan pengalaman yang sangat baik untuk saya. 


Namun pada saat itu saya banyak membantu teman teman saya yang kesulitan namun saya sendiri pun tidak memenangkan kerjaan tersebut tapi malah sebaliknya teman saya yang saya bantu bisa lolos dan memenangkan ajang O2SN ini, tapi saya tidak berkecil hati malah sebaliknya saya bangga terhadap diri saya bahwasanya saya bisa membantu teman saya dan memenangkan kejuaraan ini, dari saat itu saya di percaya untuk mengemban tugas sebagai ketua ekstrakurikuler dan membantu adik adik kelas saya, adik tingkat dan teman teman sebaya saya sendiri. 


Pada saat itu saya sangat merasakan kehangatan kekeluargaan dalam wadah organisasi yang saya pimpin dan kembangkan, dan banyak sekali dari adik kelas dan adik tingkat saya yang berhasil meraih prestasi yang bisa membanggakan orang tua dan sekolah, namun pada saat titik itu saya berpikir kenapa banyak yang berhasil dengan saya tapi saya sendiri belum pernah mendapatkan gelar juara yang bisa membanggakan orang tau saya  dan bisa menjadi tolak semangat saya untuk kedepan nya, namun saya tidak terus menerus memikirkan hal itu yang harus saya jadikan patokan itu masa yang akan datang dan karir saya yang terus saya bangun dari mulai masuk hingga tak terasa hampir 3 tahun saya di SMP mendapatkan pengalaman, mendatangkan pengetahuan, mendapatkan teman teman yang baik, suport orang tua saya yang tak ada batas nya, dan saya pun menemukan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya. 


Pada saat saat akhir saya di SMP, dunia ini di landa musibah pandemi COVID-19 pada saat itu yang dimana seharusnya saya bisa mendapatkan pengalaman yang tidak akan terlupakan yaitu perpisahan dengan teman teman SMP terhalang dengan suatu wabah yang dimana kita harus menjaga jarak antara kita dan orang lain di sekitar kita, namun di kala itu sekolah mengambil inisiatif untuk mempertemukan kita kembali di sekolah walau bukan perpisahan. 


Tak terasa waktu pun berlalu, banyak pengalaman, banyak kisah yang sudah dilalui di hidup ini, banyak juga pelajaran yang bermanfaat terkhusus nya untuk diri saya tak terasa saya sudah berada di fase dimana diri ini harus memilih kemana lagi jalan yang harus saya tempuh untuk menggapai cita cita dan melanjutkan lingkaran kehidupan yang terus berjalan beriringan dari setiap generasi disini saya sekarang. Namun tidak sedikitpun hati ini gentar menghadapi ini semua karena saya yakin bahwa do'a kedua orang tua, suport guru guru yang sudah mengajar saya hingga bisa sampai di titik ini dan seseorang yang selalu ada mendukung dan menemani semua ini lah bekal saya untuk menjalani hidup dimasa yang akan datang. 





Selasa, 11 Oktober 2022

Pemerintah Dinilai Kurang Membuka Aspirasi Publik Selama Penyusunan RUU Sisdiknas.


Pemerintah menimbang, UU No 20/2003 tentang Sisdiknas sudah tak sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum, sehingga perlu diganti.



Untuk menghadapi tantangan perubahan zaman dan menyelaraskan berbagai aturan-aturan yang sudah ada dalam satu UU, pemerintah  perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan melalui penyusunan RUU ini.


Nampaknya pemerintah berupaya menyelaraskan dan menyinkronkan tiga UU yang sudah ada agar terjadi harmonisasi dalam pelaksanaan. Yang disayangkan, dalam draf RUU Sisdiknas ini masih sedikit substansi yang membahas tata kelola guru sebagaimana tertuang dalam UU Guru dan Dosen. 


Apabila ingin mengintegrasikan UU Guru dan Dosen serta UU Pendidikan Tinggi dalam RUU Sisdiknas, maka perlu adanya pengaturan tata kelola guru dan dosen yang diarahkan pada terwujudnya tata kelola yang terintegrasi dalam rangka membangun sistem pembelajaran yang bermutu. Dalam draf RUU Sisdiknas ini masih sedikit substansi yang membahas tata kelola guru sebagaimana tertuang dalam UU Guru dan Dosen.


Jika pemerintah tidak fokus terhadap berbagai komponen pendidikan nasional, khususnya mengenai tata kelola dan peningkatan mutu guru, maka mutu pendidikan nasional dan daya saing bangsa akan sulit, bahkan mungkin tidak dapat dicapai. Upaya peningkatan mutu guru bukan merupakan program tunggal, tetap suatu sistem yang di dalamnya terdapat banyak komponen tata kelola yang satu sama lain menentukan kualitas kinerja guru.


Terkait soal ketentuan mengenai guru wajib mengikuti organisasi profesi sesuai pilihan masing-masing, tafsirnya juga bias. Hingga hari ini pun tata kelola organisasi profesi guru tidak pernah dikaji kembali dan didiskusikan secara serius serta berkelanjutan. Apakah akan dibiarkan bebas seperti sekarang? Demikian pula organisasi profesi bagi dosen, belum diatur secara spesifik dan perlu dikaji/dibahas secara lebih lanjut.


Pertanyaan lain, sejauh mana RUU Sisdiknas ini dapat menjangkau semua perundangan yang berbeda jika kedudukan hukumnya sama? Apakah RUU ini sudah sesuai dengan visi masa depan pendidikan Indonesia terkait transformasi tata kelola guru dalam peta jalan pendidikan Indonesia yang prosesnya masih berjalan hingga hari ini?


Apakah RUU ini sudah mempersiapkan pendidikan Indonesia dalam menghadapi perkembangan kemajuan teknologi yang kian pesat di masa ini dan masa datang? Untuk itu, beberapa pasal dalam RUU ini perlu mendapatkan catatan kritis agar sistem pendidikan nasional ini mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu, dan manajemen pendidikan dapat relevan dan efisien sesuai harapan.


Keinginan pemerintah menata ulang pendidikan nasional dalam satu sistem yang lebih baik memang perlu diapresiasi, tetapi harus tetap mengacu pada Konstitusi.


Berdasarkan Konstitusi, mendapatkan pendidikan adalah hak setiap warga negara dan pemerintah wajib membiayainya. Pemerintah wajib mengalokasikan anggaran paling sedikit 20 persen dari APBN untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.


Ada kekhawatiran apabila RUU Sisdiknas ini disahkan, pemerintah tak lagi memiliki kewajiban utama membiayai pendidikan. Dengan mewajibkan orangtua turut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, beban ekonomi masyarakat dalam pengeluaran untuk pendidikan semakin besar dengan munculnya berbagai bentuk sumbangan.


Pembahasan RUU Sisdiknas seharusnya membutuhkan waktu panjang, terbuka, dan tidak perlu tergesa-gesa. Masukan sebanyak-banyaknya dari berbagai elemen perlu diperhatikan dan dikaji secara mendalam agar celah-celah yang mungkin masih ada dalam pasal-pasal RUU ini dapat tertutupi sedini mungkin.

Rabu, 25 Mei 2022

RESENSI TEATER NEGERI GAGAP oleh : Rangga Yudistira



Judul : NEGERI GAGAP
Penulis : Kania Nuur Sa’adah
Pementas Teater : Kelas XI IPA 4 [ Office ]
Waktu Pementasan : Kamis, 19 Mei 2022 
Durasi Teater : 45 Menit 
Tempat Pementasan : Di Kelas XI IPA 4 SMAN Tanjungsari
Penonton : Guru Seni Budaya dan siswa/i SMAN Tanjungsari (Maximal 100 orang)

• Pemeran :
Aktor Orientasi : 
    Mikhail Ghazali
    Dhika Awaluddin A 
    Annga Larang 
    Ranisa Sri Rahayu L
    Tiara Rizki O
    Mega Silpiya 
    Astria Rizka Latifahsary
Aktor Inti :
M. Rizky Abdullah : Angga Sudrajat
Naisylla Nurmayanti : Jamilah
Kania Nuur Sa’adah : Dinda
Rizfan Fadilla A : Dean
Rangga Yudistira : Riki
Irji Farid Ilhamsyah : Nofal
Alisa Purnamasari : Indi
Widya Devianti : Selingkuhan
M. Farhan Rafiansyah : Tukang Baso
Nisrina Nazwa A : Hakim Utama 
Naima Fatia R : Hakim 1 
Aslama Rahma Aziza : Hakim 2
Risna Rosdiana H : Polisi 1
Aji Firmansyah : Polisi 2
Dito Ari N : Polisi 3

INTI / ISI DARI PEMENTASAN :
Dalam teater yang berjudul “ NEGERI GAGAP “ yang di pentaskan oleh kelas 11 IPA 4 ini mengisahkan tentang seorang calon ketua DPR yang berkorupsi dana Bantuan Sosial. Kisah ini terfokus pada kisah keluarga dari Bapak Angga sudarajat yang berantakan karena sering bertengkar dengan istrinya Ibu Jamilah. Beliau juga berselingkuh dengan wanita lain 1 yang bernama widya devianti, dan selalu bersitegang dengan anak perempuannya yang sedang bekuliah di universitas hukum yang bernama Dinda.
Secara garis besar teater ini menceritakan tentang keresahan terhadap negeri ini. Teater Negeri Gagap mengandung Kritik Sosial yang dikemas melalui teater yang menghibur dan mendidik. Dimana kritik sosial tersebut menjelaskan bahwasanya dari zaman presiden Soekarno hingga sekarang Joko widodo para pejabatnya selalu ada yang mengorupsi uang rakyat selain itu lebih mirisnya lagi para pejabat yang korupsi tersebut dapat bermewah - mewahan ditengah masyarakat kecil yang semakin menderita. Sehingga ditegaskan kembali bahwasanya para korupsi sudah tidak tahu diri dan tidak mempunyai rasa malu lagi, seakan korupsi di Indonesia sudah mendarah daging dan sudah menjadi kebiasaan para pejabat untuk memperkaya dirinya sendiri. 

KELEBIHAN :
Kelebihan teater ini dari segi penggambaran tokohnya sudah jelas, setiap tokoh memiliki peranan dan porsinya masing- masing. Dari segi gaya bahasanya pun menggunakan pembawaan yang mudah diterima bagi penikmatnya walaupun di selipkan bahasa gaul dan juga bahasa daerah [ Bahasa jawa ]. Terdapat banyak sekali nilai moral yang dapat kita petik dalam dialog dari teater tersebut, adalah bahwa seharusnya para pejabat Negara yang sukses tidak mendapatkan rezeki dari uang haram hasil korupsi. Tapi yang membuat beda dari teater yang lainnya, teater ini ada actor orientasi yang di make up menggunakan unsur – unsur darah dan meyerupai mahkluk halus memakai jubah hitam, serta berkata dengan lantang kata – kata yang kotor bisa dikatakan mendeskripsikan seorang koruptor. 

KEKURANGAN : 
Jika dilihat dari jalan ceritanya, sudah sesuai dengan judul yang diambil yaitu menceritakan tentang masalah korupsi, tetapi kurang pembawaannya dari si tokoh utama pria Bapak Angga sudrajat dalam mengucapkan kata – kata, intonasinya kurang keras dan tegas. Untuk segi pergantian babak, disaat pengambilan dan penataan propertinya perlu di tingkatkan lagi supaya tidak ricuh dan seharusnya bisa lebih rapih lagi.

KESATUAN :
Dari kesatuan, teater ini telah memiliki unsur kesatuan. Hal ini dapat dilihat dari setting yang sesuai dengan apa yang diceritakan. Selain itu, adegan demi adegan berjalan mengalir yang menjadi satu kesatuan. Klimaks terlihat jelas diakhir pementasan dan itu direspon baik oleh para penonton.

KESELURUHAN :   
Secara keseluruhan teaternya bagus dan menarik untuk ditonton. Semua pemeran bermain dengan cukup ekspresif sesuai dengan perannya, settingnya juga sesuai, lightingnya sangat pas dan keren. 

KESIMPULAN :
Dari pementasan teater ini dapat disimpulkan bahwa apa yang dipentaskan sudah bagus dan kita dapat mengambil pelajaran dari teater ini bahwasanya kita tidak boleh serakah dan harus bersyukur dangan hasil yang murni dari kerja keras kita sendiri.